by Syarif Latif
Pendidikan adalah salah satu akses penting menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan pendidikan pintu kehidupan yang lebih baik dapat dibuka. Sebagaimana yang dialami oleh penulis sendiri, Alhamdulillah pendidikan telah menghantarkannya ke dalam zona 'nyaman' kehidupan, paling tidak sesuai dengan 'common sense'. Ini adalah salah satu contoh yang terdekat yang dapat dikemukakan. Contoh yang lebih jauh sedikit adalah bagaimana orang-orang hebat berada pada level kehebatannya disebabkan oleh pendidikan. Misalnya, Bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang bahkan telah mencapai level pendidikan formal tertinggi, yaitu strata 3. Contoh lainnya, yang lebih mengglobal, adalah bagaimana negara-negara maju mendapatkan gelar 'maju' karena konsen terhadap pendidikan. Jepang, misalnya, yang sebagian wilayahnya luluh lantak oleh dahsyatnya bom atom di masa perang dunia II, dapat bangkit kembali dan menjadi negara maju karena menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama untuk membangun kembali negaranya. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun di Jepang sejak tahun 1947 (bandingkan dengan Indonesia yang baru bisa melaksanakan wajib belajar 6 tahun pada tahun 1984, wajib belajar 9 tahun pada tahun 1994, dan wajib belajar 12 tahun pada tahun 2013. Untuk wajib belajar 12 tahun ini sendiri sudah dilaksanakan dI Jepang pada era 80-an) .
Paparan di atas menegaskan bahwa pendidikan itu berkorelasi positif dengan kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, fenomena seperti itu belum sepenuhnya terjadi di negara yang kita cintai ini. Sebagai contoh dapat dilihat dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa jumlah angkatan kerja sampai dengan tahun 2013 sebanyak 118,19 juta. Dari jumlah tersebut, 47,79 juta berpendidikan maksimum tamat SD; 20, 80 juta tamat SMP; 31,40 juta tamat SMA sederajat; dan sisanya 18,20 juta mengenyam pendidikan diploma/sarjana. Data statistik tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh angkatan kerja, yaitu 68, 59 juta atau sekitar 58%, yang memiliki kualifikasi pendidikan dibawah standar, dimana standar minimum pendidikan ideal angkatan kerja adalah SMA sederajat. Hal ini menyiratkan bahwa jaminan kesejahteraan, yang menjadi salah satu indikator kehidupan yang lebih baik, bagi lebih dari setengah tenaga kerja yang ada masih jauh dari level 'ideal'. Oleh karena itu diperlukan berbagai macam usaha untuk menjadikan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama agar tercapai kehidupan yang lebih baik.
Salah satu usaha tersebut adalah menanamkan pola pikir "education is very important for the better future," bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan yang lebih baik, bagi setiap individu, khususnya bagi orang tua, guru, dan siswa itu sendiri. Bagi orang tua, dengan mind set seperti itu maka diharapkan bagi mereka untuk dapat memberikan akses seluas luasnya kepada anaknya agar dapat mengenyam pendidikan, minimum tingkat sarjana. Bagi para guru, diharapkan agar selalu memotivasi para siswanya agar tidak putus di tengah jalan dan selalu memotivasi mereka untuk melanjutkan pendidikannya, minimum tingkat sarjana. Bagi para siswa, diharapkan agar mereka memiliki komitmen untuk selalu menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama sehingga mereka terdorong untuk terus melanjutkan pendidikannya, minimum tingkat sarjana. Dengan mengenyam pendidikan minimum tingkat sarjana, maka salah satu kunci menuju kehidupan yang lebih baik telah dimiliki.
Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mengajak kepada siapa saja, pembaca blog ini, untuk mau dan rela mengambil peran; baik sebagai penyedia akses, motivator, ataupun mind setter. Karena jika kita bergantung sepenuhnya kepada program pemerintah yang baru akan menuntaskan program wajib belajar 12 tahun pada tahun 2020 dengan target APK (angka partisipasi kasar) sekolah menengah 97% maka kelihatannya kita akan semakin tertinggal. Partisipasi aktif individu sangat diperlukan sehingga akselerasi pembangunan manusia Indonesia dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian, jika ini berjalan mulus , kita semua meyakini bahwa akan ada multi effect bagi bangsa dan negara sehingga kehidupan kita di masa depan akan semakin lebih baik, dan ujung ujungnya negara kita akan lebih maju, Amin Ya Rabbal Alamin.
Pendidikan adalah salah satu akses penting menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan pendidikan pintu kehidupan yang lebih baik dapat dibuka. Sebagaimana yang dialami oleh penulis sendiri, Alhamdulillah pendidikan telah menghantarkannya ke dalam zona 'nyaman' kehidupan, paling tidak sesuai dengan 'common sense'. Ini adalah salah satu contoh yang terdekat yang dapat dikemukakan. Contoh yang lebih jauh sedikit adalah bagaimana orang-orang hebat berada pada level kehebatannya disebabkan oleh pendidikan. Misalnya, Bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang bahkan telah mencapai level pendidikan formal tertinggi, yaitu strata 3. Contoh lainnya, yang lebih mengglobal, adalah bagaimana negara-negara maju mendapatkan gelar 'maju' karena konsen terhadap pendidikan. Jepang, misalnya, yang sebagian wilayahnya luluh lantak oleh dahsyatnya bom atom di masa perang dunia II, dapat bangkit kembali dan menjadi negara maju karena menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama untuk membangun kembali negaranya. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun di Jepang sejak tahun 1947 (bandingkan dengan Indonesia yang baru bisa melaksanakan wajib belajar 6 tahun pada tahun 1984, wajib belajar 9 tahun pada tahun 1994, dan wajib belajar 12 tahun pada tahun 2013. Untuk wajib belajar 12 tahun ini sendiri sudah dilaksanakan dI Jepang pada era 80-an) .
Paparan di atas menegaskan bahwa pendidikan itu berkorelasi positif dengan kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, fenomena seperti itu belum sepenuhnya terjadi di negara yang kita cintai ini. Sebagai contoh dapat dilihat dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa jumlah angkatan kerja sampai dengan tahun 2013 sebanyak 118,19 juta. Dari jumlah tersebut, 47,79 juta berpendidikan maksimum tamat SD; 20, 80 juta tamat SMP; 31,40 juta tamat SMA sederajat; dan sisanya 18,20 juta mengenyam pendidikan diploma/sarjana. Data statistik tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh angkatan kerja, yaitu 68, 59 juta atau sekitar 58%, yang memiliki kualifikasi pendidikan dibawah standar, dimana standar minimum pendidikan ideal angkatan kerja adalah SMA sederajat. Hal ini menyiratkan bahwa jaminan kesejahteraan, yang menjadi salah satu indikator kehidupan yang lebih baik, bagi lebih dari setengah tenaga kerja yang ada masih jauh dari level 'ideal'. Oleh karena itu diperlukan berbagai macam usaha untuk menjadikan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama agar tercapai kehidupan yang lebih baik.
Salah satu usaha tersebut adalah menanamkan pola pikir "education is very important for the better future," bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan yang lebih baik, bagi setiap individu, khususnya bagi orang tua, guru, dan siswa itu sendiri. Bagi orang tua, dengan mind set seperti itu maka diharapkan bagi mereka untuk dapat memberikan akses seluas luasnya kepada anaknya agar dapat mengenyam pendidikan, minimum tingkat sarjana. Bagi para guru, diharapkan agar selalu memotivasi para siswanya agar tidak putus di tengah jalan dan selalu memotivasi mereka untuk melanjutkan pendidikannya, minimum tingkat sarjana. Bagi para siswa, diharapkan agar mereka memiliki komitmen untuk selalu menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama sehingga mereka terdorong untuk terus melanjutkan pendidikannya, minimum tingkat sarjana. Dengan mengenyam pendidikan minimum tingkat sarjana, maka salah satu kunci menuju kehidupan yang lebih baik telah dimiliki.
Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mengajak kepada siapa saja, pembaca blog ini, untuk mau dan rela mengambil peran; baik sebagai penyedia akses, motivator, ataupun mind setter. Karena jika kita bergantung sepenuhnya kepada program pemerintah yang baru akan menuntaskan program wajib belajar 12 tahun pada tahun 2020 dengan target APK (angka partisipasi kasar) sekolah menengah 97% maka kelihatannya kita akan semakin tertinggal. Partisipasi aktif individu sangat diperlukan sehingga akselerasi pembangunan manusia Indonesia dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian, jika ini berjalan mulus , kita semua meyakini bahwa akan ada multi effect bagi bangsa dan negara sehingga kehidupan kita di masa depan akan semakin lebih baik, dan ujung ujungnya negara kita akan lebih maju, Amin Ya Rabbal Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar