Kamis, 25 September 2014

Andaikan Aku Orang Itu...

by Syarif Latif

Pagi itu, sebagaimana biasa, saya akan melakoni aktivitas rutin saya sebagai pengajar di sebuah institusi pendidikan swasta di kota yang meskipun bukan tempat kelahiran saya tapi sudah saya anggap sebagai kampung halaman karena telah menjadi tempat yang menempa saya sehingga menjadi orang yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Saya mengawali aktivitas itu dengan mempersiapkan segalanya. Mulai dari materi dan alat bantu mengajar hingga memanaskan kendaraan. Setelah segalanya siap, saya lalu tancap gas.

Jalanan yang saya pilih tentu saja adalah jalanan yang bisa membuat saya sampai di tempat tujuan dengan cepat dan aman. Saya sebisa mungkin harus mengefisienkan waktu di jalan agar tiba di tempat mengajar tepat waktu. Dengan demikian saya tidak akan menelantarkan anak didik saya. Untuk maksud tersebut, saya lalu mengambil rute yang saya anggap praktis.

Akan tetapi harapan saya hanyalah sekedar harapan karena yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Saya bisa saja masuk ke kelas tidak tepat waktu. Ternyata saya memasuki jalan di mana barisan kendaraan telah mengular memenuhi hampir sepanjang jalan. Saya lalu berfikir untuk berbalik arah. Namun, ketika saya melihat ke belakang lewat spion untuk mundur dan membanting setir, ternyata di belakang saya juga sudah dipenuhi kendaraan sehingga tidak ada ruang lagi untuk berbelok. Saya pun pasrah harus tetap berada di jalan yang menjadi ajang untuk menguji kesabaran ini.

Sambil antre menunggu giliran untuk sampai di pertigaan dan berbelok ke arah kiri, saya bertanya kepada diri sendiri, 'kenapa yah jalan ini tiba-tiba saja padat seperti ini? Padahal biasanya jalan ini sering kali sepi,' gumam saya dalam hati. Dibandingkan jalan ini orang lebih senang mengambil jalur lain karena kondisi jalannya yang mulus dan luas. Saat masih bergelut dengan fikiran saya, tiba-tiba telinga saya mendengar celotehan beberapa pengendara lain dari arah yang berlawanan mengatakan bahwa jalur lain yang saya maksudkan tadi ditutup karena lagi ada pesta perkawinan. Memang belakangan ini orang lebih sering memanfaatkan badan jalan untuk acara pesta perkawinan dari pada di gedung. Para orang tua yang empunya hajatan mengeluhkan mahalnya sewa gedung yang naik berkali-kali lipat dalam rentang waktu lima tahun terakhir. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa orang lebih senang menggunakan badan jalan meskipun bisa berimbas kepada pengguna jalan seperti saat ini. Kita dipaksa untuk bergerak dalam kecepatan 1 kilometer per jam. Ketika kendaraan saya berada belasan meter dari pertigaan untuk mengambil jalur ke kiri, tiba-tiba saja ada seorang pengendara yang keluar dari antrean dan mengambil jalur sebelah kiri antrean yang memang masih cukup luas untuk kendaraan sejenis 'city car'. Dia lalu menyerobot masuk ke belokan tanpa memperdulikan pengendara lain yang ada di sebelah kanan. Akhirnya dia berhasil belok kiri meskipun harus mempertaruhkan kekinclongan kendaraannya agar tidak lecet bersenggolan dengan kendaraan yang di selipnya. Melihat kejadian itu, lalu terbersit di pikiran saya, "Andaikan aku orang itu, aku mungkin sudah lepas dari antrean ini, dan bergegas agar bisa masuk ke kelas tepat waktu". Sambil asyik berandai-andai, tidak terasa kendaraan saya akhirnya mencapai pertigaan dan sayapun berhasil berbelok ke kiri. Perasaan plong pun menyelimuti saya karena bisa memacu kendaraan sedikit lebih cepat dibanding sebelum berbelok di pertigaan. Dengan santai saya berkendara sambil berharap kondisi jalan akan terus 'bersahabat' bagi pengendara seperti saya yang butuh ketepatan waktu sampai di tempat tujuan.

Tanpa terasa saya sudah lebih dari separuh perjalanan. saya saat ini berada di dua belokan terakhir sebelum tiba di tempat saya mengamalkan ilmu  yang telah saya tekuni di bangku kuliah. Di perempatan, saya mengambil arah kanan untuk tujuan yang sama dengan sebelumnya, masuk ke kelas tepat waktu. Akan tetapi lagi-lagi harapan saya berbenturan dengan kenyataan. Kembali saya berada di jalan yang telah disesaki kendaraan. Bahkan di jalur ini, kesesakan lebih parah. Kendaraan terpaksa harus berjajar hingga tiga kendaraan sehingga tidak terdapat sedikit pun ruang untuk 'bermanuver'. Dan sekali lagi kesabaran saya diuji. Saya hanya bisa tetap berada dalam jalur antrean dan berfikir, "Inilah kotaku sekarang. Jika ada satu jalan yang tertutup, maka akan serta merta menimbulkan dampak ke jalan yang lain hingga radius satu sampai dua kilometer persegi, yaitu kemacetan."  

Sedang asyik-asyiknya memikirkan kota ini, dari arah belakang terdengar suara sirene. Saya lalu melirik spion dan melihat dua buah motor polisi lalulintas dengan lampu sein yang sedang menyala. Mereka berada di jarak sekitar lima kendaraan di belakang saya. Lewat spion juga saya melihat kendaraan-kendaraan di belakang saya itu dengan terpaksa harus menepi hingga ke luar badan jalan yang dipenuhi rumput liar sampai ke selokan yang ada di sepanjang sisi jalan. Saya pun melakukan hal yang sama untuk memberi kesempatan kepada bapak-bapak polisi itu mendahului kami. "Mungkin mereka sedang memenuhi panggilan darurat," gumam saya untuk berusaha berfikir positif. Sementara sedang memikirkan mereka, kedua polantas itu pun melewati saya. Tetapi mereka tidak hanya berdua. Di belakangnya ikut sebuah mobil sedan camry berpelat merah. Dari nomor pelatnya, saya dapat mengenali kalau orang di atas mobil camry itu adalah seorang pejabat di lingkup pemerintah propinsi. Hanya butuh beberapa menit, mereka berhasil lolos dari antrean kendaraan dan melaju hingga tidak tampak lagi di belokan lampu merah. Kembali saya bergumam, "Andaikan aku orang itu, aku juga akan dikawal voorijder sehingga bisa dengan cepat keluar dari antrean kendaraan dan sampai ke tempat mengajar tepat waktu. Tapi apa daya, saya hanyalah seorang seperti kebanyakan orang yang harus berjuang sendiri untuk tetap eksis, tanpa ada pengawal, sopir pribadi, dan fasilitas negara seperti kendaraan dinas camry tadi".             .

Saya kira asyik juga setengah berkhayal di suasana antre seperti saat ini, karena tanpa terasa saya sudah berada di belokan lampu merah yang notabene adalah jalur terakhir untuk sampai ke tempat saya berbagi ilmu dengan anak didik saya. Saya pun berbelok ke arah kanan. Di jalur ini, pada jam-jam sibuk seperti ini saya yakini akan tidak jauh berbeda dengan jalur yang saya lalui sebelumnya. Karena ini adalah jalan utama, maka kendaraan akan selalu berjubel di sini. Saya pun kembali harus memelankan kendaraan. Hingga beberapa ratus meter sebelum gerbang tempat mengajar saya, lagi-lagi saya dipaksa untuk berhenti.Di depan saya ada sebuah taksi yang berhenti di badan jalan untuk menurunkan penumpang  Sang sopir harus berhenti beberapa saat karena harus merogoh kantongnya untuk mengambil dompet dan mencari uang kembalian untuk sang penumpang. Kejadian ini berlangsung beberapa menit sehingga mengundang reaksi dari beberapa pengguna jalan lain. Ada yang membunyikan klakson keras-keras, ada yang berteriak, bahkan ada yang memaki-maki. Saya sendiri hanya tetap diam karena paham dengan situasi seperti ini. Suara klakson yang keras, teriakan, dan makian tidak akan menggoyahkan seorang sopir taksi jika hal itu berurusan dengan penumpang. Saya hanya bisa kembali bergumam, "Andai aku orang itu, sopir taksi itu, maka aku akan mendapatkan bunyi klakson yang keras, teriakan, dan makian. Untunglah aku bukan orang itu."

Saya akhirnya mensyukuri untunglah saya bukan orang-orang itu, karena apa yang orang pertama, kedua dan ketiga lakukan pasti akan sangat merugikan orang lain. Meskipun tidak terdengar klakson keras, teriakan, dan makian kepada orang yang pertama dan kedua, saya meyakini bahwa pasti ada orang yang mendongkol karena merasa terzalimi, hanya saja tidak nampak seperti terhadap orang yang ketiga. Dan yang paling penting adalah saya bukan salah seorang dari ketiganya, tetapi Alhamdulillah, saya bisa datang tepat waktu ke tempat mengajar saya dan anak-anak didik saya akhirnya tidak telantar.