Senin, 21 Juli 2014

Implementasi Teori ' i + 1 ' dalam Pendidikan

by Syarif Latif 

Dalam belajar bahasa, khususnya pemerolehan bahasa kedua, kita mengenal satu teori yang dinamakan dengan ' i +1 '. Teori yang dikembangkan oleh Stephen Krashen (1982) ini dikenal juga dengan input hypothesis, satu dari lima hipotesis yang dikemukakan oleh Krashen dalam pemerolehan bahasa kedua yang difokuskan pada pemerolehan bukan pada pembelajaran bahasa. Dalam teori ini, menurut Krashen, pemerolehan bahasa dapat terjadi jika pebelajar bahasa mendapatkan pesan yang bisa mereka fahami. Konsep ini disebut dengan comprehensible input. Akan tetapi, agar terjadi perkembangan bahasa bagi pebelajar, maka comprehensible input tersebut haruslah satu tingkat di atas kompetensi kebahasaan terkini yang dimiliki oleh pebelajar bahasa. Inilah yang kemudian diistilahkan dengan 'i+1'.

Menggaris bawahi istilah 'i+1' yang bermakna satu tingkat, tahap. posisi atau apasaja, menurut hemat saya dapat diberlakukan secara universal, begitupula dalam dunia pendidikan secara luas. Dengan mengkonversi 'arah' dari 'i+1', maka teori tersebut dapat diimplementasikan dalam lingkup region, sekolah, ataupun individu. Jika 'arah' dari 'i+1' dalam pemerolehan bahasa kedua adalah pemberian comprehensible input satu level diatas ( one step beyond) kemampuan linguistik pebelajarnya, maka untuk implementasi pada lingkup pendidikan secara luas adalah berbentuk penerapan minimal satu ciri khas yang menjadi kelebihan tiap-tiap lingkup. Ciri khas itulah yang dikategorikan sebagai one step beyond dan tentu saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari masing-masing lingkup.

Implementasi di lingkup region, dalam hal ini provinsi ataupun kabupaten/kota, dapat dilakukan dengan mendirikan sebuah sekolah khusus yang mencirikan potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut dan perpeluang menjadi andalan untuk membangan daerah yang bersangkutan. Misalnya, satu daerah yang merupakan sentra produksi pertanian dan perkebunan, maka daerah tersebut diarahkan untuk membangun sebuah sekolah yang memiliki spesialisasi dalam bidang pertanian dan perkebunan. Sekolah tersebut bisa dalam bentuk sekolah menengah ataupun lebih bagus lagi dalam bentuk politehnik. Diharapkan sekolah itu nantinya dapat menjadi pusat penelitian, pengembangan ataupun rekayasa di bidang pertanian dan perkebunan. Alumninya sendiri bisa menjadi pionir bagi masyarakat lainnya untuk bersama-sama membangun daerahnya dalam bidang yang menjadi spesialisasinya. Dengan demikian daerah yang merupakan sentra produksi akan semakin unggul dan menjadi penguatan terhadap trade mark yang sudah disandangnya.

Selanjutnya, untuk implementai di lingkup sekolah dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus pada satu program atau mata pelajaran yang menjadi andalan dari sekolah yang bersangkutan berdasarkan sumber daya yang ada; manusia, sarana prasarana, lingkungan sekitar, dsb, Bukan berarti menyepelekan program atau mata pelajaran lain, tetapi dengan melihat potensi yang ada maka diyakini program atau mata pelajaran andalan ini akan lebih berpotensi mengangkat 'derajat' dari sekolah yang berangkutan. Inilah yang kemudian menjadi trade mark dan sekolah ini nantinya dikenal karena program atau mata pelajaran tersebut. Satu sekolah, misalnya, berdasarkan hasil analisis memiliki keunggulan di mata pelajaran bahasa Inggris, maka mata pelajaran tersebut akan mendapatkan perhatian khusus untuk lebih dikembangkan. Misalnya, dengan membentuk kelompok debat bahasa Inggris, membentuk English Club, mengelola bahan publikasi dalam bahasa Inggris, menjadikan lingkungan sekolah sebagai zona berbahasa Inggris, dsb. Semua program ini dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan. Secara komprehensif, diupayakan agar seluruh komponen yang ada di sekolah; guru, staf, dan siswa; memiliki kemampuan dasar bahasa Inggris yang memadai. Sedangkan secara berkesinamungan, diupayakan agar dalam perekrutan siswa baru, kemampuan bahasa Inggris mereka menjadi syarat mutlak untuk bisa diterima, misalnya dengan melakukan tes wawancara bahasa Inggris selain ujian tertulis. Jika dimungkinkan, sekolah dapat memberikan fasilitas berupa 'masuk tanpa tes'  bagi siswa yang memiliki kemampuan bahasa Inggris di atas rata rata.

Untuk implementasi di lingkup individu dapat dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk lebih memperdalam satu mata pelajaran untuk dijadikan 'spesialisasi' plus skill lain yang dapat menjadi nilai tambah ataupun pendukung atas penguasaan mata pelajaran tersebut. Ini, tentu saja, dilakukan sesuai dengan minat dan bakat dari siswa yang bersangkutan. Jadi, dalam hal ini dukungan dari guru bimbingan dan konseling sangat diperlukan. Si A, misalnya, yang memiliki potensi dalam mata pelajaran fisika, diarahkan untuk memperdalam mata pelajaran fisika tersebut dengan cara memberikan bimbingan serta pelatihan khusus, memasukkannya ke dalam kelompok pencinta mata pelajaran fisika, dsb. Selain itu, agar memiliki nilai lebih, si A juga diarahkan untuk memperdalam satu skill seperti bahasa Inggris, komputer, keterampilan menulis, keterampilan public speaking, dsb. Dengan demikian, siswa yang bersangkutan akan berada 'satu langkah' di depan jika bersaing dengan siswa lain dalam mata pelajaran yang sama, yatu fisika.

Implementasi di tiga lingkup di atas dapat dilakukan secara serentak ataupun parsial tergantung pada situasi dan kondisi daerah/sekolah yang bersangkutan. Apabila ini terlaksana, sebagaimana tujuan dari teori 'i+1' di atas, maka diyakini kita akan menghasilkan individu individu yang siap bersaing dengan negara negara lain, meskipun ada yang dinamakan era globalisasi, AFTA, ASEAN Community, dsb. karena kita memiliki modal 'nilai lebih' tersebut.    

Kamis, 10 Juli 2014

10 kualifikasi guru yang baik

Berikut sejumlah kualifikasi guru yang baik ditinjau dari perspektif siswa:
1. Saya suka guru yang memiliki semangat mengajar yang bisa mempengaruhi
    semangat siswanya untuk belajar
2. Saya suka guru yang kreatif
3. Saya suka guru yang membawa kesenangan dan rasa humor ke dalam kelas
4. Saya suka guru yang memberi tantangan kepada siswanya
5. Saya suka guru yang selalu memberi dorongan dan sabar, serta guru yang tidak
    pernah menyerah kepada siswanya
6. Saya suka guru yang bisa melihat ketertarikan siswanya
7. Saya suka guru menguasai materi yang diajarkannya dan guru yang bisa menjelaskan
    sesuatu secara spontan
8. Saya suka guru yang rela meluangkan sedikit waktunya untuk menjawab pertanyaan
    siswanya diluar jam belajar
9. Saya suka guru yang memperlakukan siswanya sebagai seorang manusia tanpa
    membedakan antara satu dengan yang lain.
10. Dan akhirnya, saya suka guru yang tidak membawa serta perasaan emosionalnya
    ke dalam kelas.

Kualifikasi di atas dapat digolongkan menjadi empat bagian, yaitu: 1) kualifikasi afektif, 2) keterampilan, 3) manajemen kelas, dan 4) kemampuan akademik.
Kualifikasi afektif mencakup: semangat, rasa humor, sabar, kesiapan setiap saat, dan kondisi mental.
Keterampilan mencakup: kreatifitas dan tantangan.
Manajemen kelas mencakup: membuat kelas riang dan bertindak adil.
Kemampuan akademik mencakup: penguasaan materi.

Pertanyaan bagi kita para guru, apakah kita telah memiliki semua kualifikasi di atas, atau hanya sebagian, atau hanya sedikit, atau tidak sama sekali? Marilah kita merefleksi diri kita masing masing demi pendidikan yang lebih baik.

Rabu, 09 Juli 2014

Classroom Activities for Teaching English (Walking Cars)

                                                         Walking Cars*)
                                                       
Level: Beginner
Time required: 5 minutes (or more)
Goals: To provide learners with common vocabulary describing the movement of vehicles; to practice listening skills; to energize and refresh learners
Materials: chalk and blackboard, or whiteboard and markers
Background: The controlled movements students practice can enhance classroom management. Repetition of commands, reinforced by physical movement, makes remembering the vocabulary easy and fun.
Preparation:
1. Write “Walking Cars” on the board. Ask learners what they think “Walking Cars” might mean.
2. Tell them that in this activity, they will be the Walking Cars. But they will be walking in place.
3. Demonstrate walking in place: lift your feet and swing your arms as if you are walking—but without moving forward.
4. Write the following Action Commands on the board and demonstrate the movements:
go straight – walk in place at a medium pace
slow down – walk in place in slow motion
speed up – walk in place very fast
stop – hold your exact position, even in the middle of a stride
5. Practice these four Action Commands with the class.
Procedures:
1. Have learners stand up—beside their desks, in the aisles, in the front or back of the classroom— wherever there is room.
2. Give commands to the class. For example, if you say “Go straight,” the class will walk in place at medium speed. If you say “Speed up,” the class will walk in place faster.
3. Students will follow whatever instructions you give. When you say “Stop,” all students should
freeze.
4. Gradually add more Action Commands—on the same day or the next time you play:
turn left – turn counterclockwise 90 degrees and continue walking in place
turn right – turn clockwise 90 degrees and continue walking in place
make a U-turn – turn around 180 degrees and continue walking in place
honk your horn – make a beep sound
Variations
 1. Allow a student to give the commands. After students have played several times, they will be able to call out the commands themselves. Not only can this make the activity more fun for students, but it also gives them speaking practice and allows you to pay more attention to their pronunciation and comprehension.
2. Do the activity with students in smaller groups. Divide the class into groups of five or six. Allow students to take turns being the one to call out the Action Commands. This will add speaking practice and student autonomy to the task.
3. You can turn Walking Cars into a game. However, you will need open space because students will actually walk forward instead of walking in place. It’s possible to play in a classroom if you have enough room, but think of playing outside, too (e.g., on a playground or sports field). Students form a line to start, as in a race, so that they are roughly equidistant from you. You should stand a reasonable distance from them, facing them. Students move forward, or back, or to the right or left, according to the Action Commands you give. When you “catch” a student—for turning the wrong way or for moving after a “Stop” command, for example—that student must go back to the starting line. Other students continue to advance, and those who reach you (or a predetermined goal, such as a fence or a tree) are winners.
Extension
You can advance the language of the activity by adding Action Commands or mixing in synonyms. This activity can provide challenging listening practice if you continue to add commands, such as those listed below.
Additional Action Commands
park – sit down in your seats
pull out – get out of your seats
back up – walk backwards (can be used if you play Walking Cars as a game)
floor it – walk very fast (can be used if you play Walking Cars as a game)
Synonyms for Action Commands
turn left = take a left; hang a left
turn right = take a right; hang a right
go straight = drive; go straight ahead; continue; keep going
speed up = accelerate; step on it
slow down = reduce speed
stop = hit the brakes; red light
honk your horn = beep your horn; honk

*) Developed by Kevin McCaughey & adapted from English Teaching Forum number 2, 2013, pp.49-50.

Senin, 07 Juli 2014

Education for Better Future

by Syarif Latif

Pendidikan adalah salah satu akses penting menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan pendidikan pintu kehidupan yang lebih baik dapat dibuka. Sebagaimana yang dialami oleh penulis sendiri, Alhamdulillah pendidikan telah menghantarkannya ke dalam zona 'nyaman' kehidupan, paling tidak sesuai dengan 'common sense'. Ini adalah salah satu contoh yang terdekat yang dapat dikemukakan. Contoh yang lebih jauh sedikit adalah bagaimana orang-orang hebat berada pada level kehebatannya disebabkan oleh pendidikan. Misalnya, Bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang bahkan telah mencapai level pendidikan formal tertinggi, yaitu strata 3. Contoh lainnya, yang lebih mengglobal, adalah bagaimana negara-negara maju mendapatkan gelar 'maju' karena konsen terhadap pendidikan. Jepang, misalnya, yang sebagian wilayahnya luluh lantak oleh dahsyatnya bom atom di masa perang dunia II, dapat bangkit kembali dan menjadi negara maju karena menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama untuk membangun kembali negaranya. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun di Jepang sejak tahun 1947 (bandingkan dengan Indonesia yang baru bisa melaksanakan wajib belajar 6 tahun pada tahun 1984, wajib belajar 9 tahun pada tahun 1994, dan wajib belajar 12 tahun pada tahun 2013. Untuk wajib belajar 12 tahun ini sendiri sudah dilaksanakan dI Jepang pada era 80-an) .
Paparan di atas menegaskan bahwa pendidikan itu berkorelasi positif dengan kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, fenomena seperti itu belum sepenuhnya terjadi di negara yang kita cintai ini. Sebagai contoh dapat dilihat dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa jumlah angkatan kerja sampai dengan tahun 2013 sebanyak 118,19 juta. Dari jumlah tersebut, 47,79 juta berpendidikan maksimum tamat SD; 20, 80 juta tamat SMP; 31,40 juta tamat SMA sederajat; dan sisanya 18,20 juta mengenyam pendidikan diploma/sarjana. Data statistik tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh angkatan kerja, yaitu 68, 59 juta atau sekitar 58%, yang memiliki kualifikasi pendidikan dibawah standar, dimana standar minimum pendidikan ideal angkatan kerja adalah SMA sederajat. Hal ini menyiratkan bahwa jaminan kesejahteraan, yang menjadi salah satu indikator kehidupan yang lebih baik, bagi lebih dari setengah tenaga kerja yang ada masih jauh dari level 'ideal'. Oleh karena itu diperlukan berbagai macam usaha untuk menjadikan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama agar tercapai kehidupan yang lebih baik.
Salah satu usaha tersebut adalah menanamkan pola pikir "education is very important for the better future," bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan yang lebih baik, bagi setiap individu, khususnya bagi orang tua, guru, dan siswa itu sendiri. Bagi orang tua, dengan mind set seperti itu maka diharapkan bagi mereka untuk dapat memberikan akses seluas luasnya kepada anaknya agar dapat mengenyam pendidikan, minimum tingkat sarjana. Bagi para guru, diharapkan agar selalu memotivasi para siswanya agar tidak putus di tengah jalan dan selalu memotivasi mereka untuk melanjutkan pendidikannya, minimum tingkat sarjana. Bagi para siswa, diharapkan agar mereka memiliki komitmen untuk selalu menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama sehingga mereka terdorong untuk terus melanjutkan pendidikannya, minimum tingkat sarjana. Dengan  mengenyam pendidikan minimum tingkat sarjana, maka salah satu kunci menuju kehidupan yang lebih baik telah dimiliki.
Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mengajak kepada siapa saja, pembaca blog ini, untuk mau dan rela mengambil peran; baik sebagai penyedia akses, motivator, ataupun mind setter. Karena jika kita bergantung sepenuhnya kepada program pemerintah yang baru akan menuntaskan program wajib belajar 12 tahun pada tahun 2020 dengan target APK (angka partisipasi kasar) sekolah menengah 97%  maka kelihatannya kita akan semakin tertinggal. Partisipasi aktif individu sangat diperlukan sehingga akselerasi pembangunan manusia Indonesia dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian, jika ini berjalan mulus , kita semua meyakini bahwa akan ada multi effect bagi bangsa dan negara sehingga kehidupan kita di masa depan akan semakin lebih baik, dan ujung ujungnya negara kita akan lebih maju, Amin Ya Rabbal Alamin.