by Syarif Latif
Dalam belajar bahasa, khususnya pemerolehan bahasa kedua, kita mengenal satu teori yang dinamakan dengan ' i +1 '. Teori yang dikembangkan oleh Stephen Krashen (1982) ini dikenal juga dengan input hypothesis, satu dari lima hipotesis yang dikemukakan oleh Krashen dalam pemerolehan bahasa kedua yang difokuskan pada pemerolehan bukan pada pembelajaran bahasa. Dalam teori ini, menurut Krashen, pemerolehan bahasa dapat terjadi jika pebelajar bahasa mendapatkan pesan yang bisa mereka fahami. Konsep ini disebut dengan comprehensible input. Akan tetapi, agar terjadi perkembangan bahasa bagi pebelajar, maka comprehensible input tersebut haruslah satu tingkat di atas kompetensi kebahasaan terkini yang dimiliki oleh pebelajar bahasa. Inilah yang kemudian diistilahkan dengan 'i+1'.
Menggaris bawahi istilah 'i+1' yang bermakna satu tingkat, tahap. posisi atau apasaja, menurut hemat saya dapat diberlakukan secara universal, begitupula dalam dunia pendidikan secara luas. Dengan mengkonversi 'arah' dari 'i+1', maka teori tersebut dapat diimplementasikan dalam lingkup region, sekolah, ataupun individu. Jika 'arah' dari 'i+1' dalam pemerolehan bahasa kedua adalah pemberian comprehensible input satu level diatas ( one step beyond) kemampuan linguistik pebelajarnya, maka untuk implementasi pada lingkup pendidikan secara luas adalah berbentuk penerapan minimal satu ciri khas yang menjadi kelebihan tiap-tiap lingkup. Ciri khas itulah yang dikategorikan sebagai one step beyond dan tentu saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari masing-masing lingkup.
Implementasi di lingkup region, dalam hal ini provinsi ataupun kabupaten/kota, dapat dilakukan dengan mendirikan sebuah sekolah khusus yang mencirikan potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut dan perpeluang menjadi andalan untuk membangan daerah yang bersangkutan. Misalnya, satu daerah yang merupakan sentra produksi pertanian dan perkebunan, maka daerah tersebut diarahkan untuk membangun sebuah sekolah yang memiliki spesialisasi dalam bidang pertanian dan perkebunan. Sekolah tersebut bisa dalam bentuk sekolah menengah ataupun lebih bagus lagi dalam bentuk politehnik. Diharapkan sekolah itu nantinya dapat menjadi pusat penelitian, pengembangan ataupun rekayasa di bidang pertanian dan perkebunan. Alumninya sendiri bisa menjadi pionir bagi masyarakat lainnya untuk bersama-sama membangun daerahnya dalam bidang yang menjadi spesialisasinya. Dengan demikian daerah yang merupakan sentra produksi akan semakin unggul dan menjadi penguatan terhadap trade mark yang sudah disandangnya.
Selanjutnya, untuk implementai di lingkup sekolah dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus pada satu program atau mata pelajaran yang menjadi andalan dari sekolah yang bersangkutan berdasarkan sumber daya yang ada; manusia, sarana prasarana, lingkungan sekitar, dsb, Bukan berarti menyepelekan program atau mata pelajaran lain, tetapi dengan melihat potensi yang ada maka diyakini program atau mata pelajaran andalan ini akan lebih berpotensi mengangkat 'derajat' dari sekolah yang berangkutan. Inilah yang kemudian menjadi trade mark dan sekolah ini nantinya dikenal karena program atau mata pelajaran tersebut. Satu sekolah, misalnya, berdasarkan hasil analisis memiliki keunggulan di mata pelajaran bahasa Inggris, maka mata pelajaran tersebut akan mendapatkan perhatian khusus untuk lebih dikembangkan. Misalnya, dengan membentuk kelompok debat bahasa Inggris, membentuk English Club, mengelola bahan publikasi dalam bahasa Inggris, menjadikan lingkungan sekolah sebagai zona berbahasa Inggris, dsb. Semua program ini dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan. Secara komprehensif, diupayakan agar seluruh komponen yang ada di sekolah; guru, staf, dan siswa; memiliki kemampuan dasar bahasa Inggris yang memadai. Sedangkan secara berkesinamungan, diupayakan agar dalam perekrutan siswa baru, kemampuan bahasa Inggris mereka menjadi syarat mutlak untuk bisa diterima, misalnya dengan melakukan tes wawancara bahasa Inggris selain ujian tertulis. Jika dimungkinkan, sekolah dapat memberikan fasilitas berupa 'masuk tanpa tes' bagi siswa yang memiliki kemampuan bahasa Inggris di atas rata rata.
Untuk implementasi di lingkup individu dapat dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk lebih memperdalam satu mata pelajaran untuk dijadikan 'spesialisasi' plus skill lain yang dapat menjadi nilai tambah ataupun pendukung atas penguasaan mata pelajaran tersebut. Ini, tentu saja, dilakukan sesuai dengan minat dan bakat dari siswa yang bersangkutan. Jadi, dalam hal ini dukungan dari guru bimbingan dan konseling sangat diperlukan. Si A, misalnya, yang memiliki potensi dalam mata pelajaran fisika, diarahkan untuk memperdalam mata pelajaran fisika tersebut dengan cara memberikan bimbingan serta pelatihan khusus, memasukkannya ke dalam kelompok pencinta mata pelajaran fisika, dsb. Selain itu, agar memiliki nilai lebih, si A juga diarahkan untuk memperdalam satu skill seperti bahasa Inggris, komputer, keterampilan menulis, keterampilan public speaking, dsb. Dengan demikian, siswa yang bersangkutan akan berada 'satu langkah' di depan jika bersaing dengan siswa lain dalam mata pelajaran yang sama, yatu fisika.
Implementasi di tiga lingkup di atas dapat dilakukan secara serentak ataupun parsial tergantung pada situasi dan kondisi daerah/sekolah yang bersangkutan. Apabila ini terlaksana, sebagaimana tujuan dari teori 'i+1' di atas, maka diyakini kita akan menghasilkan individu individu yang siap bersaing dengan negara negara lain, meskipun ada yang dinamakan era globalisasi, AFTA, ASEAN Community, dsb. karena kita memiliki modal 'nilai lebih' tersebut.
Dalam belajar bahasa, khususnya pemerolehan bahasa kedua, kita mengenal satu teori yang dinamakan dengan ' i +1 '. Teori yang dikembangkan oleh Stephen Krashen (1982) ini dikenal juga dengan input hypothesis, satu dari lima hipotesis yang dikemukakan oleh Krashen dalam pemerolehan bahasa kedua yang difokuskan pada pemerolehan bukan pada pembelajaran bahasa. Dalam teori ini, menurut Krashen, pemerolehan bahasa dapat terjadi jika pebelajar bahasa mendapatkan pesan yang bisa mereka fahami. Konsep ini disebut dengan comprehensible input. Akan tetapi, agar terjadi perkembangan bahasa bagi pebelajar, maka comprehensible input tersebut haruslah satu tingkat di atas kompetensi kebahasaan terkini yang dimiliki oleh pebelajar bahasa. Inilah yang kemudian diistilahkan dengan 'i+1'.
Menggaris bawahi istilah 'i+1' yang bermakna satu tingkat, tahap. posisi atau apasaja, menurut hemat saya dapat diberlakukan secara universal, begitupula dalam dunia pendidikan secara luas. Dengan mengkonversi 'arah' dari 'i+1', maka teori tersebut dapat diimplementasikan dalam lingkup region, sekolah, ataupun individu. Jika 'arah' dari 'i+1' dalam pemerolehan bahasa kedua adalah pemberian comprehensible input satu level diatas ( one step beyond) kemampuan linguistik pebelajarnya, maka untuk implementasi pada lingkup pendidikan secara luas adalah berbentuk penerapan minimal satu ciri khas yang menjadi kelebihan tiap-tiap lingkup. Ciri khas itulah yang dikategorikan sebagai one step beyond dan tentu saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari masing-masing lingkup.
Implementasi di lingkup region, dalam hal ini provinsi ataupun kabupaten/kota, dapat dilakukan dengan mendirikan sebuah sekolah khusus yang mencirikan potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut dan perpeluang menjadi andalan untuk membangan daerah yang bersangkutan. Misalnya, satu daerah yang merupakan sentra produksi pertanian dan perkebunan, maka daerah tersebut diarahkan untuk membangun sebuah sekolah yang memiliki spesialisasi dalam bidang pertanian dan perkebunan. Sekolah tersebut bisa dalam bentuk sekolah menengah ataupun lebih bagus lagi dalam bentuk politehnik. Diharapkan sekolah itu nantinya dapat menjadi pusat penelitian, pengembangan ataupun rekayasa di bidang pertanian dan perkebunan. Alumninya sendiri bisa menjadi pionir bagi masyarakat lainnya untuk bersama-sama membangun daerahnya dalam bidang yang menjadi spesialisasinya. Dengan demikian daerah yang merupakan sentra produksi akan semakin unggul dan menjadi penguatan terhadap trade mark yang sudah disandangnya.
Selanjutnya, untuk implementai di lingkup sekolah dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus pada satu program atau mata pelajaran yang menjadi andalan dari sekolah yang bersangkutan berdasarkan sumber daya yang ada; manusia, sarana prasarana, lingkungan sekitar, dsb, Bukan berarti menyepelekan program atau mata pelajaran lain, tetapi dengan melihat potensi yang ada maka diyakini program atau mata pelajaran andalan ini akan lebih berpotensi mengangkat 'derajat' dari sekolah yang berangkutan. Inilah yang kemudian menjadi trade mark dan sekolah ini nantinya dikenal karena program atau mata pelajaran tersebut. Satu sekolah, misalnya, berdasarkan hasil analisis memiliki keunggulan di mata pelajaran bahasa Inggris, maka mata pelajaran tersebut akan mendapatkan perhatian khusus untuk lebih dikembangkan. Misalnya, dengan membentuk kelompok debat bahasa Inggris, membentuk English Club, mengelola bahan publikasi dalam bahasa Inggris, menjadikan lingkungan sekolah sebagai zona berbahasa Inggris, dsb. Semua program ini dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan. Secara komprehensif, diupayakan agar seluruh komponen yang ada di sekolah; guru, staf, dan siswa; memiliki kemampuan dasar bahasa Inggris yang memadai. Sedangkan secara berkesinamungan, diupayakan agar dalam perekrutan siswa baru, kemampuan bahasa Inggris mereka menjadi syarat mutlak untuk bisa diterima, misalnya dengan melakukan tes wawancara bahasa Inggris selain ujian tertulis. Jika dimungkinkan, sekolah dapat memberikan fasilitas berupa 'masuk tanpa tes' bagi siswa yang memiliki kemampuan bahasa Inggris di atas rata rata.
Untuk implementasi di lingkup individu dapat dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk lebih memperdalam satu mata pelajaran untuk dijadikan 'spesialisasi' plus skill lain yang dapat menjadi nilai tambah ataupun pendukung atas penguasaan mata pelajaran tersebut. Ini, tentu saja, dilakukan sesuai dengan minat dan bakat dari siswa yang bersangkutan. Jadi, dalam hal ini dukungan dari guru bimbingan dan konseling sangat diperlukan. Si A, misalnya, yang memiliki potensi dalam mata pelajaran fisika, diarahkan untuk memperdalam mata pelajaran fisika tersebut dengan cara memberikan bimbingan serta pelatihan khusus, memasukkannya ke dalam kelompok pencinta mata pelajaran fisika, dsb. Selain itu, agar memiliki nilai lebih, si A juga diarahkan untuk memperdalam satu skill seperti bahasa Inggris, komputer, keterampilan menulis, keterampilan public speaking, dsb. Dengan demikian, siswa yang bersangkutan akan berada 'satu langkah' di depan jika bersaing dengan siswa lain dalam mata pelajaran yang sama, yatu fisika.
Implementasi di tiga lingkup di atas dapat dilakukan secara serentak ataupun parsial tergantung pada situasi dan kondisi daerah/sekolah yang bersangkutan. Apabila ini terlaksana, sebagaimana tujuan dari teori 'i+1' di atas, maka diyakini kita akan menghasilkan individu individu yang siap bersaing dengan negara negara lain, meskipun ada yang dinamakan era globalisasi, AFTA, ASEAN Community, dsb. karena kita memiliki modal 'nilai lebih' tersebut.